HACKED BY ROY SURYO Berbagai upaya dilakukan para pejabat koruptor untuk menghindari terciumnya korupsi oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Kordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman, mengatakan salah satu cara yang dilakukan para koruptor untuk memuluskan aksinya yakni dengan memberikan dalam bentuk uang tunai. Selain itu mereka juga menyimpan uang hasil korupsi dalam bentuk dolar tunai agar lebih mudah menyembunyikannya di rumah. "Modusnya macam-macam, mereka berikan uang hasil korupsi pada rekannya dengan bentuk tunai untuk menghindari tercatat transaksi PPATK. Mereka juga simpan uang tunai, ditukarkan ke dolar biar lebih ringkes, karena kalau rupiah tunai kan pasti jadi banyak," ujar Boyamin saat berbincang dengan Okezone, Rabu (15/1/2014) malam. Modus lainnya yakni melakukan pencucian uang dalam bentuk logam mulia. Emas batangan tersebut dinilai akan sulit dilacak asal muasalnya. "Dengan logam mulia, meski ada sertifikatnya tapi kalau dikecil-kecilin ukurannya yang 100 gram, itu agak sulit dilacak," jelasnya. Cara tercanggih yang kini dilakukan para koruptor dalam menyembunyikan hasil korupsinya dengan premi asuransi, dimana dalam beberapa tahun yang ditentukan uang tersebut baru bisa dicairkan. "Ada lagi asuransi, kayak kemarin pakai premi asuransi Rp2 miliar, Rp4 miliar. Berapa tahun kemudian baru bisa diambil. Mereka tidak terima uang tunai atau transfer, tapi premi yang nantinya baru cair. Itu lebih canggih lagi," ungkapnya. Kendati demikian, serapat-rapatnya bangkai ditutup pasti akan tercium juga busuknya. Selihainya para koruptor menutupi perbuatan korupsinya pasti akan terbongkar juga.